Kiranya semua orang setuju untuk memperbincangkan ajaran agama di mana dan kapan saja. Perbincangan itu dilakukan agar orang menjadi mengerti dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa diperbincangkan dan apalagi diajarkan, agama tidak akan dimengerti oleh banyak orang. Itulah pentingnya pengajaran agama dilakukan, baik di masjid, madrasah, sekolah, di tempat-tempat pengajian, dan seterusnya.
Akan tetapi agama tidak cukup sekedar diperbincangkan dan apalagi hanya diperdebatkan secara terus menerus. Agama harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Perbincangan agama tanpa diteruskan dengan upaya menjalankannya akan menjadi sia-sia belaka, atau paling tidak manfaatnya menjadi tidak maksimal. Bahkan perbincangan atau debat berlebihan tentang agama hanya akan melahirkan perpecahan yang justru kontra produktif dengan maksud dihadirkannya agama di muka bumi ini.
Banyaknya perpecahan di kalangan umat yang hal itu sebenarnya tidak boleh terjadi, adalah sebagai akibat dari agama yang terlalu banyak diperdebatkan. Mungkin saja tidak mengapa memperdebatkan agama, dalam hal ini adalah Islam, tetapi perdebatan itu seharusnya bukan terkait dengan kegiatan ritualnya. Memperdebatkan aspek ritual tidak akan pernah berujung pada kesimpulan yang pasti benarnya. Berdebat tentang ibadah haji misalnya, tidak akan ketemu, siapa yang benar-benar mabrur dan atau tidak.
Perdebatan atas perbedaan pandangan akan membawa rakhmat manakala hal itu bukan menyangkut ritual, misalnya bagaimana mengembangkan ilmu pengetahuan, menjadikan manusia berkualitas unggul, membangun tatanan sosial yang adil, menemukan cara-cara bekerja secara profesional, dan sejenisnya. Hal-hal seperti itu sebenarnya juga menjadi bagian dari Islam, sebab ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad, bukan saja menyangkut agama, melainkan juga terkait dengan kehidupan secara menyeluruh, di antaranya sebagaimana dikemukakan di muka.
![]() |
| Taken from :reddit.com |
Sebaliknya, perdebatan yang hanya sebatas menyangkut kegiatan ritual, maka yang terjadi adalah perpecahan antar umat. Perpecahan di kalangan umat selama ini, manakala diamati secara saksama, ternyata bukan bersumber dari adanya perbedaan yang mendasar tentang ilmu pengetahuan, pemikiran tentang kemanusian, sosial politik, pengembangan ekonomi, dan sejenisnya, melainkan berawal dari memperdebatkan tentang hal-hal yang seharusnya tidak terlalu perlu dilakukan.
Ajaran agama yang terkait dengan kegiatan ritual, maka segera saja dijalankan. Memperdebatkan tentang jumlah raka’at shalat, bacaan doa, berwudhu, puasa, haji, cara-cara berdzikir, dan seterusnya hanya akan menambah aliran, golongan, dan organisasi dengan berbagai fahamnya yang berbeda-beda. Perpecahan pun akhirnya menjadi semakin semarak. Padahal, perpecahan selalu mengakibatkan kelemahan dan pasti berujung pada kekalahan serta penderitaan. Betapa banyak hubungan sosial dan juga sillaturrakhiem menjadi terganggu hanya disebabkan perbedaan jumlah raka’at dalam shalat, bersuci, dan sejenisnya.
Untuk menghindari perpecahan umat, maka perdebatan menyangkut kegiatan ritual tidak perlu dikembangkan lebih jauh. Ajaran yang menyangkut ritual akan menjadi lebih tepat manakala segera saja dijalankan dan bukan dijadikan bahan wacana, dan apalagi diperdebatkan. Munculnya berbagai jenis organisasi keagamaan, --------tidak terkecuali di Indonesia, jika diteliti secara saksama, akan ditemukan adalah oleh karena adanya perbedaan di dalam menjalankan kegiatan ritual itu.
Oleh karena itu, sebagaimana dikemukakan di muka, kegiatan ritual tidak perlu didiskusikan dan apalagi diperdebatkan. Hal menyangkut kegiatan ritual, apakah sudah tepat atau belum, dan atau juga diterima atau tidak, adalah bukan berada pada otoritas manusia. Sebuah kegiatan ritual diterima atau ditolak, adalah tergantung pada Dzat Yang Maha Kuasa, Allah swt. Apa saja yang diketahui dan diyakininya benar, maka itulah yang seharusnya segera dilaksanakan, dan bukan diperdebatkan. Wallahu a’lam.
----
tulisan bapak imam suprayogo

0 Response to "Tatkala Agama Sebatas Dijadikan Bahan Perdebatan"
Posting Komentar